Spirit Bisnis

Published on September 16th, 2018 | by Zul April

0

Membangun Jiwa Wirausaha dan Bisnis

 

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi
(AI Qashash 28: 77)

 

 

Jiwa bisnis, entrepreneur, atau wirausaha sangat menarik untuk dilirik. Apalagi ketika tingkat kebutuhan
tenaga kerja semakin tidak bisa mengimbangi kecepatan jumlah sumber daya manusia yang tersedia. Saat Ini, angka pengangguran membengkak. Ratusan ribu lulusan penguruan tinggi menganggur. Bangsa Ini kelebihan tenaga kerja. Ya, benar-benar kelebihan tenaga kerja. Ujungnya dipaksa menjual tenaga kerja ke luar negeri dengan segala penderitaannya.

Di sisi lain, seharusnya fenomena ini membuat anak negeri ini merenung. Selain terbatasnya lahan pemerintah PNS atau karyawan swasta, bangsa ini sangat membutuhkan sosok-sosok entrepreneur. Saatnya para karyawan merenung. Fakta menyebutkan, tingkat kenaikan gaji para karyawan, baik PNS maupun swasta, tak mampu mengejar tingkat pertambahan kebutuhan sehari-hari. Belum lagi kalau ia harus mengubah nasib dengan mempunyai kendaraan atau rumah besar, misalnya.

Yuk kita renungkan bersama, berapa lama waktu yang diperlukan seorang karyawan yang menerima gaji 2 juta perbulan, misalnya, agar bisa memiliki rumah seharga 200 juta rupiah? Ia harus menabung selama 100 bulan atau delapan tahun lebih. Itupun kalau ia menyimpan seluruh penghasilannya sebanyak 2 juta perbulan tanpa dipotong untuk kebutuhan makan, tempat tinggal, sekolah anak, dan Iain-Iain. Dengan kondisi demikian, mungkinkah ia berharap bisa memiliki kendaraan roda empat. Kalau saja ia berharap memiliki kendaraan atau rumah seharga 2 milyar, misalnya, maka orang yang berpenghasilan 2 juta perbulan tadi harus menabung tanpa makan dan minum selama 1000 bulan.

Merenungkan hal tersebut, selayaknya penghuni negeri ini mengubah paradigma berpikirnya. Paradigma sebagian masyarakat masih banyak yang ngotot memaksakan anaknya harus diterima di PNS dengan berbagai cara termasuk suap-menyuap dan nepotisme. Patadigma ini harus diubah dengan paradigma baru. Yaitu mendidik generasi muda dengan jiwa wirausaha.

 

 

Suatu saat Abdullah Ibnul Mubarak, maha guru para ahli zuhud, ulama dan perawi hadits yang tsiqoh, jago panah dan petarung sejati, ditanya tentang mengapa beliau masih berbisnis. Beliau yang terlibat dalam sebagian besar pertempuran di masa hidupnya, menulis beberapa buku monumental seperti Kitab Ai-Zuhd, memang dikenal sebagai seorang pebisnis yang sukses. Beliau hanya mengatakan dengan enteng. “Aku berbisnis untuk menjaga kehormatan para ulama agar mereka tidak terbeli oleh para penguasa.”

Harta, kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah sumber kebanggaan manusia dalam hidup. Maka perintah menjadi kaya beralas di sini. Itu sebabnya kita menemukan para ulama besar yang juga pebisnis. Abu Hanifah, misalnya, adalah pengusaha garmen. Beliau bahkan membiayai hidup sebagian besar murid-muridnya. Itu membuat beliau terhormat di mata para penguasa, relatif untoucheble. Jadi kita boleh saja menjadi super milyarder di kehidupan ini. Bahkan hal itu menjadi sangat baik apabila kita Iandasi dengan ikatan (aqidah; aqad; bond) yang kokoh, . bahwa kita hanya akan menjemput rezeki harta dengan, untuk dan demi ridha Allah sang Maha Kaya.

Catatan sejarah telah tertorehkan dengan jelas, bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdagang dengan jujur dan menjunjung tinggi etika bisnis di masa mudanya, dan kesuksesanpun diraihnya. Sahabat beliau, Abdurrahman bin Auf yang terkenal sebagai pengusaha sukses di masanya, juga menegakkan prinsip-prinsip Islam dalam berbisnis. Banyak lagi kisah-kisah orang terdahulu yang sukses karena ketundukannya pada ketentuan Allah Azza Wa Jalla.

Namun yang terpenting, spirit utama para pengusaha dalam melakoni bisnisnya hendaklah diniatkan sebagai ibadah, karena Allah Azza wa Jalla, bukan karena niatan lainnya. Berbisnis dengan spirit ibadah tentu akan terasa nikmat, apalagi ketika kesuksesan itu bisa mendatangkan manfaat bagi orang lain. Bukankah Rasulullah saw mengingatkan kita, bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling banyak memberikan manfaat bagi sesamanya? Semoga kita dapat meneladani sang Nabi dan para sahabatnya dalam berbisnis.

Mari kita jadikan spirit bisnis sebagai senjata ampuh untuk menggapai mimpi yang mempunyai karakter sosial tinggi, sehingga endingnya adalah sukses didunia dan akhirat dapat kita raih..

 

 

Oke, semoga bermanfaat ya silahkan share agar saling mendapatkan ilmu :).


About the Author



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top ↑